Senin, 30 Maret 2015

Kisah Qurban Bu Sumi

Kisah Qurban Bu Sumi


Kisah ini terjadi ± tahun 1995, telah cukup lama memang, namun setiap kepingin memasuki I’dul Adha abdi selalu teringat dgn kejadian yang pernah aku alami ini, dan hingga ketika ini aku ngga pernah melupakannya.

Awalnya saat abdi sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh lantaran telah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yg terjual, ngga seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kita cukup gelisah waktu itu. Saat sedang berbincang salah seorang teman mengajak aku utk sholat ashar dan ane pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yg kebetulan dekat dgn tempat kita berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa aku mengerjakan zikir dan doa. Utk ketika ini doa ane fokuskan utk dagangan ane agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.

Setelah selesai, saya serta teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat di tempat kita berjualan banyak sekali org di sana dan terlihat teman kita yg berada di sana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya ane serta teman aku berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada ketika itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terimakasih Ya Robb, Kamu telah mendengar & menjawab doa kami”, Syukur abdi dlm hati.

Namun setelah semuanya terlayani serta keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat gw ibu ini telah lama berada disitu. Pada saat kita sedang sibuk, ibu ini sudah ada namun cuma memperhatikan kita bertransaksi. Abdi tegur teman abdi “Ibu tersebut ingin order ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang tdk ditawarin ya? sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya tak akan order ( mohon maaf.. ibu tersebut berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya). kalau dilihat dari penampilannya ngga mungkin ibu itu mau berqurban.

Namun abdi coba hampiri ibu tersebut & coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yg tersebut berapa bang ?” Ibu tersebut menunjuk hewan yang paling harga murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, tdk usah tawar lagi ya bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir abdi memang dari biaya segitu keuntungan gw kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang abdi Hanya ada 450 ribu, boleh gak”. Waduh... ane bingung, karna tersebut biaya modal kami, http://modernlivingroom.org/design/living-room-candidate/

Akhirnya ane berembug dgn teman yg lain. “Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban”. Sepakat kita berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi bersedia, tetapi dia minta diantar oleh abdi serta ongkos bajaj-nya dia yg bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu tersebut langsung pulang dengan jalan kaki. Ane pun berangkat.

Ketika hingga di hunian ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah.....Allahu Akbar, merinding saya, terasa menggigil seluruh badan abdi demi melihat keadaan hunian ibu tersebut.

Ibu tersebut hanya tinggal bertiga dgn org tuanya (ibunya) dan satu org anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah serta jendela dari kawat. Saya ngga melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.

Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yg sepertinya dlm kondisi sakit. “Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata ibu ini namanya Sumi), cewe tua itu terbangun dan berjalan keluar. “Ini ibu aku bang” ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak, Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Org tua tersebut kaget, namun dari wajahnya terlihat senang & bahagia, sambil mengelus-elus kambing, org tua tersebut berucap, Allahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau aku nawarnya telalu murah, saya cuma kuli cuci, ane sengaja kumpulkan uang utk beli kambing yg mau abdi niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dgn hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman.

Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini. Rasanya ane sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.

“Bang nih ongkos bajajnya.! Panggil si ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj gw yg bayar. Aku cepat pergi sebelum ibu tersebut tahu kalau mata ini telah basah, karna ngga sanggup mendapat teguran dari Allah yg telah mempertemukan aku dgn hambaNYA yg dengan kesabaran, ketabahan serta penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

5 Tips Menyimpan Uang Tanpa Anda Sadari Living Room Candidate

Tidak ada komentar:

Posting Komentar